Alquran Sebagai Inspirator Kemajuan


Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan, di tengah kehidupan yang semakin modern, Al Quran memiliki fungsi penting sebagai solusi terhadap kompleksnya kehidupan dan inspirator untuk menggapai kehidupan lebih baik.

Hafal Al Quran merupakan nilai tambah yang luar biasa bagi umat Islam, terutama bagi penghafalnya, kata Suryadharma Ali pada sambutan pembukaan konferensi penghafal Al Quran se-Asia Fasifik di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, Nilai tambah hafal akan Al Quran semakin besar jika dilanjutkan dengan pemahaman, pendalaman dan penguasaan isi kandungan dan tafsir Al Quran. Sebab, kehidupan makin kompleks dan Al Quran punya fungsi penting sebagai solusi kompleksnya problem kehidupan.

Di dalam Kitab Suci Al Quran terkandung ilmu yang tak terhingga. Ilmu dan pengetahuan manusia demikian luas, namun tak lebih setetes air dibandingkan dengan ilmu Tuhan yang bagaikan samudra luas.

Sudah lebih dari 15 abad silam, Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW kemudian didiseminasikan secara luas ke seluruh umat manusia, isinya penuh dengan nilai luhur ketuhanan, moralitas, etika, sejarah dan ilmu pengetahuan.

Al Qurnan terbukti tak lekang oleh waktu dan tak aus oleh perubahan zaman, katanya.

Untuk itu Menag mengajak umat Islam, khususnya anak didik yang masih usia sekolah, untuk mencintai dan mempelajari dan mengamalkan Al Quran.

Dewasa ini, kata Suryadharma Ali, ia merasa prihatin seandainya pengajian Al Quran yang dahulu syiar di musholla, surau dan masjid, kini menjadi surut. Ini disebabkan kehidupan yang semakin modern, acara tayangan televisi menjadi ancaman bagi generasi mendatang.

Untuk mengatasi hal itu dari kehidupan, menurut Menag, diperlukan strategi pendidikan yang tepat sehingga Al Quran dapat dilestarikan. Sehingga, generasi mendatang gemar mempelajari dan mendalami isi kandungan Al Quran menjadi kebutuhan.

Cara konvensional mungkin masih bermanfaat, tetapi bisa jadi efektivitasnya berkurang. Khususnya terkait dengan penghafal Al Quran, tantangan juga ada di sekitar dengan tersedianya Cakram Padat (CD) dan program aplikasi komputer bisa jadi dis-motivator, ia menjelaskan.

Sebagian orang mungkin berfikir, untuk apa susah-susah menghafal Al Quran 30 juz yang butuh waktu 2 – 4 tahun, jika dengan putar CD atau klik saja di komputer, dengan mudah ditemukan ayat yang diperlukan. Sebetulnya kehadiran teknologi itu harus dijadikan sebagai sarana mempermudah menghafal Al Quran.

Untuk itu, ia minta agar santri atau peserta didik Al Quran tak boleh gagap tekonologi (computer illiterate). Untuk itu pula pihaknya kini mengembangkan program dan sarana teknologi informasi untuk mendukung pengembangan ilmu keislaman.

“Kitab kuning tak lagi hanya disimpan dalam bentuk manuskrip di lemari kayu dalam perpustakaan pesantren, tapi juga telah di-store dalam file dan CD, bahkan disimpan dalam dunia maya,” ia mengatakan.(ANT)

Sumber:Jakarta(tvOne)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: