Dedikasi dan Potensi


Menjadi Inspirasi bagi orang lain bukan berarti harus hebat dan ahli, orang sederhana pun mampu melakukannya.

December 27, 2009



Ratusan Ribu penonton dan pembaca tanah air, tergugah. Banyak diantara mereka yang terkobarkan semangatnya untuk melanjutkan kembali sekolah, pekerjaan, kehidupan, bahkan setidaknya satu orang sembuh dari narkoba karena malu dan tersadar setelah membaca karya itu. Padahal cerita yang disuguhan buku dan film “Laskar Pelangi“ sejatinya polos dan sederhana. Tentang pengalaman masa kecil diajar oleg guru yang penuh didikasi yang mau berhujan-hujan datang kebangunan reyot untuk mengajar, dan berteman dengan anak yang penuh dengan potensi, namun harus berhenti sekolah karena nasib.



Guru bukanlah harus orang yang hebat. Dedikasi dan ketulusan, dua hal inilah yang penting.


Film Mandarin yang berjudul Not One Less (1999), ceritanya ada sedikit kemiripan, tentang bagaimana sebuah kelas sekolah di pedalaman miskin harus diajar dan dipertahankan oleh anak umur 13 tahun. Bedanya dengan “Laskar Pelangi”, karya Zhang Yimou ini adalah fiksi, namun justru menginspirasi pemain wanita utamanya, yang betul-betul hanyalah anak kampung miskin dipedalaman China, untuk bersekolah terus sampai mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat dan mendalami bidang penyutradaraan.


Anak kecil bak tanah liat yang siap dibentuk. Seseorang bayi lahir dengan jauh lebih banyak neuron daripada seorang manusia dewasa dengan tujuan mempersiapkan otak menyesuaikan diri dalam lingkungan apapun. Anak kecil belajar bahasa asing jauh lebih cepat daripada orang dewasa, menyerap segala macam kata yang didengar seperti halnya sepon, meniru segala macam kelakuan baik atau buruk. Mereka membutuhkan edukasi dan khususnya lagi inspirasi.


Negara maju tampaknya menyadari benar pentingnya generasi muda dan pendidikan untuk kelangsungan hidup masa depan. Amerika, khususnya, bahkan terobsesi dalam menjejali anak dengan inspirasi. Slogan “The American dream”, industri raksasa Hollywood, larisnya buku-buku seperti Chicken Soup for the Soul (CSFTS), acara sejenis “American Idol”, sampai pemujaan selebriti dari artis hingga atlet, semua sedikit banyak adalah cerminan hal ini.


Tapi ketika kemaren kita menyaksikan Ibu Halimah, guru Ikal dalam “Laskar Pelangi”, disalah satu acara TV, mungkin bisa kita tersadar. Ibu Halimah berkata sederhana, “Saya bukan orang hebat. Pendidikan juga tidak tinggi. Yang hebat murid-muridnya.” Memang benar, guru atau inspirator bukanlah harus orang yang hebat. Dedikasi dan ketulusan, dua hal itulah yang penting. Bahkan, kita berhasil jika bisa membuat orang lain lebih hebat. Jadi, terima kasih juga, Bu.

Thank’s to, Steven Haryanto©Copyright2008 steven@masterweb.net.

& Indonesia’s Biggest-Selling Computer Magazine (pcmedia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: